Sunday, May 5, 2013

Bedak Gatal

Bedak Salicyl (Salicyl Talk)

Komposisi:
            -     Asam Salisilat 2 %
-     Talk 98%

Cara Kerja Obat:
Asam Salisilat merupakan bakteriostatik, fungisida, keratolitik, terutama untuk pemakaian luar.

Indikasi:
Bedak tabur untuk gatal-gatal pada kulit karena biang keringat atau gangguan kulit lain yang bukan infeksi.

Cara Pemakaian:
Bedak ini ditaburkan dan digosokkan rata pada bagian kulit yang gatal.

Peringatan dan Perhatian:
-     Jangan digunakan pada anak-anak di bawah usia 2 tahun
-     Jangan digunakan secara luas pada tubuh
-     Jangan digunakan untuk waktu yang lama

Efek Samping: 
Kulit kering, iritasi kulit

Antitusif (Batuk Kering)

Dextromethorphan (DMP)

Komposisi:
Tiap tablet mengandung Dextromethorphan HBr 15 mg

Cara Kerja Obat:
Dextromethorphan HBr merupakan antitusif (penekan batuk) non-opiat sintetik yang bekerja pada pusat batuk dengan jalan meningkatkan ambang refleks batuk.

Indikasi:
Meringankan batuk tidak berdahak / batuk kering atau yang menimbulkan rasa sakit

Kontraindikasi:
Penderita yang hipersensitif (terhadap dextromethorphan), wanita hamil 
Dosis:
Dewasa dan anak-anak di atas 12 tahun  : 1 tablet, 3 kali sehari.

Efek Samping:
Jarang menyebabkan kantuk, mual, pusing, konstipasi

Peringatan dan Perhatian:
Tidak dianjurkan untuk batuk berdahak dan untuk anak usia kurang dari 2 tahun.Hati-hati untuk penderita dalam keadaan mengantuk, debil dan hipoksia (kekurangan oksigen). Hati-hati bila digunakan pada penderita dengan gangguan fungsi hati.

Antiskabies (Kudis)

Scabicid Cream

Komposisi:
Tiap gram mengandung:
Gameksan (gama benzene heksaklorida)             10 mg
Asam usnat                                                        10 mg
dalam krim yang mudah dicuci

Scabies (Skabies = Kurap):
Scabies disebabkan oleh parasit Sarcoptes scabies. Parasit ini berkembang subur di tempat-tempat dimana soal kebersihan diabaikan. Setelah pembuahan terjadi di permukaan kulit, parasit yang betina membuat terusan-terusan yang berliku-liku yang berakhir dengan sebuah lobang dalam lapisan kornea kulit. Di lobang ini telur-telurnya diletakkan, setelah menetas larva-larva dapat keluar dari lobang tersebut. Supaya efektif, obat anti-scabies harus mampu membunuh parasit-parasit dan telur-telurnya. Apabila telurnya tidak dapat diberantas, pemakaian obat harus diulangi setelah telur-telur menetas. Siklus hidup dari telur sampai parasit adalah 8 sampai 15 hari.

Khasiat Scabicid:
Scabicid terutama ditujukan untuk mengobati scabies.
Gameksan adalah suatu skabisida, dan disamping itu juga pedikulosida. Meskipun toksitasnya tidak boleh dianggap ringan, zat ini dapat digunakan dengan aman sebagai obat luar dalam konsentrasi sampai 1% apabila tidak terlalu sering diulang.
Gameksan adalah suatu insektisida dan sekaligus larvasida, tetapi telur-telur parasit tidak langsung terpengaruh oleh zat ini. Maka sekali-kali diperlukan juga penggunaan untuk ke-2 atau ke-3 kalinya.
Asam usnat dalam Scabicid adalah untuk memberantas infeksi sekunder, yang umumnya menyertai scabies. Infeksi sekunder biasanya disebabkan oleh bakteri gram positif, seperti Streptokokus dan Stafilokokus. Terhadap bakteri-bakteri tersebut Asam usnat adalah sangat efektif.

Perhatian:
Gameksan sedikit banyak merangsang selaput lender, maka Scabicid tidak boleh terkena mata atau selaput lender lain.

Cara Pakai:
Scabicid langsung digunakan pada tempat yang terkena scabies dan daerah sekitarnya untuk menjamin pengobatan yang sempurna. Untuk pemakaian di kepala khususnya wanita, dianjurkan untuk memperpendek rambut sebelum pengobatan.
Setelah diobati, tidak mandi, atau mencuci bagian-bagian yang ada obatnya, selama sedikitnya 24 jam setelah pengobatan itu.
Apabila pengobatan tidak sempurna, dapat diulangi setelah kurang lebih satu minggu. Obat ini tidak boleh digunakan lebih dari 3 kali berturut-turut, karena penggunaan terlalu sering di tempat yang sama dapat merangsang kulit.

Antibiotik

Levofloxacin

Sediaan:
-     Tablet : 250 mg, 500 mg
-     Vial: 5 mg/ml, 100 ml

Cara Kerja Obat:
Levofloxacin merupakan isomer optik S- (-) dari ofloxacin dengan spektrum antibakteri yang luas, aktif terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif, termasuk bakteri anaerob. Levofloxacin juga aktif terhadap Chlamydia pneumoniae dan Mycoplasma pneumoniae. Mekanisme kerjanya dengan cara menghambat replikasi dan transkripsi DNA bakteri.

Indikasi:
Untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang peka terhadap Levofloxacin, seperti :
-     Sinusitis maxilaris akut
-     Eksaserbasi akut bronkitis kronik
-     Community acquired pneumonia
-     Infeksi saluran kemih terkomplikasi
-     Prostatitis kronik
-     Infeksi kulit dan jaringan kulit yang tidak terkomplikasi.

Kontraindikasi :
Penderita yang hipersensitif terhadap levofloxacin, antimikroba golongan kuinolon dan komponen dari obat ini.

Dosis:
Per Oral (diminum):
-     Sinusitis akut: 500 mg/hari selama 10 – 14 hari.
-     Bronkitis kronik dengan eksaserbasi akut: 250 – 500 mg perhari selama 7 – 10 hari.
-     Pneumonia komuniti: 500 mg satu atau dua kali sehari selama 7 – 14 hari.
-     Infeksi saluran kemih terkomplikasi: 250 mg perhari selama 7 – 10 hari (3 hari pada infeksi tanpa komplikasi).
-     Prostatitis kronik: 500 mg selama 28 hari.
-     Infeksi kulit dan jaringan lunak lainnya: 250 mg perhari atau 500 mg satu sampai dua kali perhari selama 7 – 14 hari.

Melalui infus intravena (minimal 60 menit untuk 500 mg):
-     Pneumonia komuniti: 500 mg, satu sampai dua kali sehari.
-     Infeksi saluran kemih dengan komplikasi: 250 mg perhari.
-     Infeksi kulit dan jaringan lunak lainnya: 500 mg 2 kali sehari.

Peringatan dan Perhatian :
-     Keamanan dan manfaat dari levofloxacin pada anak-anak, dewasa dibawah usia 18 tahun, wanita hamil dan menyusui belum terbukti.
-     Kolitis pseudomembranosa telah dilaporkan pada penggunaan beberapa antibiotika termasuk levofloxacin, dari gejala yang ringan sampai yang mengancam jiwa, oleh karena itu perlu dipertimbangkan diagnosis keadaan tersebut pada penderita yang mengalami diare sehubungan dengan pemberian antibiotika.
-     Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan flora usus normal terbunuh dan pertumbuhan berlebih dari bakteri clostridia yang dapat menghasilkan toxin.
-     Konvulsi dan toxic psikosis pernah dilaporkan pada penggunaan antibiotika kuinolon termasuk levofloxacin.
-     Reaksi hipersensitif yang fatal pernah dilaporkan, hentikan penggunaan levofloxacin apabila timbul gejala-gejala hipersensitif.
-     Reaksi fototoksisitas ringan sampai berat telah diamati pada penderita yang terkena sinar matahari langsung selama menerima obat-obat golongan ini.
-     Sama dengan golongan kuinolon lainnya, levofloxacin harus digunakan dengan hati-hati pada penderita yang diketahui atau dicurigai menderita gangguan SSP karena dapat menjadi faktor predisposisi bangkitan kejang atau menurunkan ambang bangkitan kejang (seperti pada arteriosklerosis serebral berat, epilepsi) atau adanya faktor risiko lain yang dapat mempengaruhi bangkitan kejang atau menurunkan ambang bangkitan kejang.
-     Sama dengan golongan kuinolon lainnya, gangguan glukosa darah, termasuk hiper dan hipoglikemia telah dilaporkan, biasanya pada penderita diabetes, yang menerima pengobatan bersama-sama dengan obat oral hipoglikemik atau dengan insulin.

Efek Samping :                  
Efek samping yang dapat terjadi : diare, mual, kembung, konstipasi, nyeri perut, sakit kepala, insomnia, agitasi, anorexia, ansietas, arthralgia, mulut kering, dyspnea, edema, lelah, demam, genital pruritus, keringat berlebih, gelisah, rhinitis, gangguan kulit, somnolence dan hilang rasa.

Cefuroxime


Sediaan:
Cefuroxime vial 750 mg injeksi

Cara Kerja Obat:
Cefuroxim digunakan untuk mengobati infeksi tertentu yang disebabkan oleh bakteri seperti; bronkitis, gonore, penyakit limfa, dan infeksi pada organ telinga, tenggorokan, sinus, saluran kemih, dan kulit.

Indikasi:
-     Infeksi Gram positif & Gram negatif pada saluran pernafasan, saluran kemih, saluran pencernaan, kulit & jaringan lunak
-     Septikemia (keracunan darah oleh bakteri patogenik dan atau zat-zat yang dihasilkan oleh bakteri tersebut)
-     Meningitis (radang selaput otak)

Kontraindikasi :
Hipersensitifitas

Dosis:
-     Dewasa : 750 mg - 2 gram tiap 8 jam selama 5-10 hari.
-     Anak-anak : 30-100 mg/kg berat badan/hari dibagi menjadi 3-4 kali pemberian.

Peringatan dan Perhatian :
-     Pasien yang sensitif terhadap Penisilin.
-     Gangguan fungsi ginjal.

Efek Samping :                  
-     Efek pada saluran pencernaan, kolitis pseudomembranosa, reaksi hipersensitivitas, eosinofilia, neutropenia, anemia hemolitikum, superinfeksi.
-     Flebitis (radang pembuluh balik).

Ceftazidime

Sediaan:
Ceftazidime 1 gram injeksi

Cara Kerja Obat:
Ceftazidime adalah kelompok obat yang disebut cephalosporin antibiotics. Ceftazidime bekerja dengan cara mematikan bakteri dalam tubuh. Ceftazidime digunakan untuk mengobati berbagai jenis infeksi bakteri, termasuk keadaan parah atau yang mengancam nyawa.

Indikasi:
Infeksi-infeksi yang disebabkan oleh kuman yang susceptible antara lain:
-     Infeksi umum: septicaemia; bacteriaemia; peritonitis; meningitis; penderita ICU dengan problem spesifik, misalnya luka bakar yang terinfeksi.
-     Infeksi saluran pernapasan bagian bawah: pneumonia, bronkopneumonia; pleuritis pada paru-paru; emfisema; bronciectasis yang terinfeksi; abcess pada paru-paru; infeksi paru-paru pada penderita cystic fibrosis.
-     Infeksi saluran kemih: pyelonephritis akut dan kronis; pyelitis; prostatitis; berbagai abscess renal
-     Infeksi jaringan lunak dan kulit: celullitis; erysipelas; abscess; mastitis; luka bakar atau luka lain yang terinfeksi; ulkus pada kulit
-     Infeksi tulang dan sendi: osteotitis, osteomyelitis; artritis septik; bursitis yang terinfeksi infeksi abdominal dan bilier, cholangitis, cholecystitis; peritonitis; diverkulitis; penyakit radang pelvic
-     Dialysis Infeksi-infeksi yang dikaitkan dengan dialisis haemo dan peritoneal dan CAPD (continous ambulatory peritoneal dialysis).

Kontraindikasi :
Penderita yang hipersensitif terhadap antibiotika sefalosporin.

Dosis:
-     Dewasa : 1- 6 gram/hari, dalam 2 – 3 dosis terbagi.
-     Bayi > 2 bulan dan anak-anak : 30 – 100 mg/kg BB/hari, dalam 2 – 3 dosis terbagi.
-     Neonatus dan bayi < 2 bulan : 25 – 60 mg/kg BB/hari, dalam 2 dosis terbagi.
-     Besarnya dosis dapat disesuaikan dengan jenis infeksi, derajat infeksi, usia, berat badan, dan fungsi ginjal dari penderita.
-     Pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal, dosis dapat disesuaikan dengan cara menurunkan dosis dan atau dengan memperpanjang interval pemberian obat.

Peringatan dan Perhatian :
-     Jika muncul reaksi alergi terhadap Ceftazidime, obat harus dihentikan.
-     Pemberian pada wanita hamil dan menyusui harus mempertimbangkan rasio manfaat dan resiko.
-     Penggunaan dosis tinggi harus diberikan dengan hati-hati pada penderita yang mendapat pengobatan bersama-sama dengan obat nefrotoksik (aminoglikosida), diuretik kuat karena dapat mempengaruhi fungsi renal.

Efek Samping :                    
-     Reaksi hipersensitivitas (urticaria, pruritus, ruam, reaksi parah seperti anaphylaxis bisa terjadi); Efek GI (diare, N/V, diare/radang usus besar); Efek lainnya (infeksi candidal).
-     Dosis tinggi bisa dihubungkan dengan efek CNS (encephalopathy, convulsion); Efek hematologis yang jarang; pengaruh terhadap ginjal dan hati juga terjadi.
-     Perpanjangan PT (prothrombin time), perpanjangan APTT (activated partial thromboplastin time), dan atau hypoprothrombinemia (dengan atau tanpa pendarahan) dikabarkan terjadi, kebanyakan terjadi dengan rangkaian sisi NMTT yang mengandung cephalosporins.

Sediaan:
Ceftriaxone 1 gram injeksi

Cara Kerja Obat:
Ceftriaxone merupakan golongan sefalosporin yang mempunyai spektrum luas dengan waktu paruh eliminasi 8 jam. Efektif terhadap mikroorganisme gram positif dan gram negatif. Ceftriaxone juga sangat stabil terhadap enzim beta laktamase yang dihasilkan oleh bakteri.

Indikasi:
Untuk infeksi-infeksi berat dan yang disebabkan oleh kuman-kuman gram positif maupun gram negatif yang resisten terhadap antibiotika lain :
-     Infeksi saluran pernafasan
-     Infeksi saluran kemih
-     Infeksi gonoreal
-     Septisemia bakteri
-     Infeksi tulang dan jaringan
-     Infeksi kulit

Kontraindikasi :
Hipersensitif terhadap cephalosporin dan penicillin (sebagai reaksi alergi silang).

Dosis:
1.  Dewasa dan anak-anak diatas 12 tahun :
1-2 g sekali sehari secara intravena
Dosis lebih dari 4 g sehari harus diberikan dengan interval 12 jam.
2.  Bayi dan anak-anak di bawah 12 tahun :
-     Bayi 14 hari : 20 – 50 mg/kg berat badan sekali sehari
-     Bayi 15 hari s/d 12 tahun : 20 – 80 mg/kg berat badan sekali sehari
-     Anak-anak dengan berat badan 50 kg atau lebih : dapat digunakan dosis dewasa melalui infus paling sedikit > 30 menit.

Pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal, kliren creatinin tidak lebih dari 10 ml/menit, dosis tidak lebih dari 2 g sehari.

Peringatan dan Perhatian :
-     Pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan hati yang berat, kadar plasma obat perlu dipantau.
-     Sebaiknya tidak digunakan pada wanita hamil (khususnya trimester I).
-     Tidak boleh diberikan pada neonatus (terutama prematur) yang mempunyai resiko pembentukan ensephalopati bilirubin.
-     Pada penggunaan jangka waktu lama, profil darah harus dicek secara teratur.

Efek Samping :                    
-     Gangguan pencernaan: diare, mual, muntah, stomatitis
-     Reaksi kulit: dermatitis, pruritus, urtikaria, edema, eritema multiforme, dan reaksi anafilaktik
-     Hematologi: eosinofil, anemia hemolitik, trombositosis, leukopenia, granulositopenia
-     Gangguan sistem saraf pusat: sakit kepala
-     Efek samping lokal: iritasi akibat dari peradangan dan nyeri pada tempat yang diinjeksi
-     Gangguan fungsi ginjal: untuk sementara terjadi peningkatan BUN
-     Gangguan fungsi hati: untuk sementara terjadi peningkatan SGOT dan SGPT

kurang darah

Sulfas Ferosus (SF)

Sediaan:
Tablet 300 mg

Manfaat:
Zat besi atau sulfas ferosus merupakan zat penting untuk pembentukan sel darah merah, menjadi cadangan zat besi bagi janin, mengoptimalkan fungsi otot. Karena manfaatnya yang luar biasa maka setiap ibu hamil harus dipastikan mendapat zat besi yang cukup selama masa kehamilannya agar tidak mengalami kekurangan sel darah merah atau anemia.

Indikasi:
-     Anemia hipokromik & makrositik
-     Hamil

Dosis:
-     Dewasa : 1-3 kali sehari 1 tablet.
-     Anak-anak : 1-2 kali sehari 1 tablet.
-     Wanita hamil : 4-5 kali sehari 1 tablet.
-     Untuk anemia berat biasanya diberikan 3 x 1 tablet selama 6 bulan.

Efek Samping :                  
Nyeri lambung, konstipasi, diare dan kolik.

Vitamin B12 (Sianokobalamin)


Sediaan:
Tablet : 25 mcg, 50 mcg, 100 mcg, 1000 mcg

Manfaat Vitamin B12:
-     Mencegah kerusakan syaraf
-     Membantu pembentukan sel darah merah
-     Memperlancar metabolisme sistem tubuh
-     Mengubah karbohidrat, protein dan lemak menjadi energi

Sumber Vitamin B12:
Daging sapi, daging ikan, hati, telur, susu, kedelai dan rumput laut.

Indikasi:
-     Anemia pernisiosa
-     Penderita penyakit berat yang disertai kerusakan neurologik yang menyolok, penyakit hati yang berat atau komplikasi bentuk lain.
-     Defisiensi sianokobalamin yang bisa disebabkan oleh gangguan fungsi atau struktur pada ileum, penyakit pankreas, dan infeksi parasit pada usus.

Kontraindikasi:
Hipersensitivitas

Dosis:
-     Dewasa: 1 – 25 mcg/hari
-     Anak-anak > 1 tahun: 1 mcg/hari
-     Anak-anak < 1 tahun: 0,3 mcg/hari
Bila jumlah yang diberikan melebihi kapasitas yang dibutuhkan, sisanya akan dikeluarkan melalui urin.

Peringatan dan Perhatian:
Gunakan secara berhati-hati pada penyakit jantung, uremia, defisiensi asam folat, defisiensi besi (respon terhadap B12 akan terganggu).

Efek Samping :                    
-     Kardiovaskular: trombosis vaskular perifer
-     Gastrointestinal: diare
-     Kulit: gatal, pembengkakan tubuh, urtikaria








Cara Merawat Alat Kelamin


Pria atau wanita, sebagai makhluk ciptaan-Nya, kita harus menghargai setiap pemberian-Nya, baik yang diberikan secara langsung maupun tidak langsung. Kita dapat menghargai pemberian-Nya dengan merawat dan mempergunakan dengan baik dan bijak segala yang diberikan-Nya, termasuk alat kelamin. Alat kelamin pria sangatlah berbeda dengan wanita, baik dari bentuk, struktur, fungsi maupun kegunaannya. Sehingga berbeda pula cara perawatannya. Ketahanan terhadap infeksi dan iritasi pun berbeda antara alat kelamin pria dan wanita. Penis yang merupakan alat kelamin pria cenderung lebih kuat terhadap infeksi dan iritasi daripada vagina yang dimiliki wanita karena sebagian besar kulit penis cukup tebal.


Masyarakat awam seringkali salah dalam hal merawat alat kelamin. Misalnya, wanita sering membersihkan alat kelamin dengan sabun biasa / cairan pembersih yang tidak jelas apa kandungannya, menaburi bedak, hingga menyemprotkan parfum ke dalam lubang vagina. Demikian pula dengan pria, mereka suka memakai celana dalam yang ketat agar terlihat lebih seksi. Hal-hal seperti itu dapat menimbulkan iritasi dan infeksi.

Berikut adalah beberapa cara yang dapat dengan mudah kita lakukan untuk merawat alat kelamin kita :

1. Setiap setelah buang air besar atau kecil, usahakan untuk selalu mencuci bagian luar alat kelamin Anda dengan air dan sabun.
Cara membersihkannya :

Untuk wanita : siram air dari depan ke belakang, bukan sebaliknya. Cara itu berguna untuk mencegah masuknya kuman-kuman yang asalnya dari dubur / anus ke vagina.
Untuk pria : cukup bersihkan dengan air bersih.
Setelah itu, Anda harus mengeringkannya dengan tisu. Karena keadaan lembab dapat mendatangkan kuman, bakteri, jamur, dan lain-lain yang bisa menimbulkan penyakit kelamin.

Hal-hal lain yang perlu diperhatikan :

Jika tidak tersedia air atau tisu, maka Anda dapat menggunakan tisu basah khusus untuk daerah kewanitaan. Tapi, penggunaan tisu yang terlalu sering dapat membunuh flora normal (bakteri baik) daerah kewanitaan yang sebenarnya berguna untuk menjaga kesehatan daerah kewanitaan.
Selain penggunaan tisu basah, sabun khusus daerah kewanitaan yang beredar di pasaran sebaiknya juga jangan terlalu sering digunakan. Tetap usahakan mencuci dengan air bersih saja. Tetapi, jika ingin menggunakan sabun, pakailah sabun yang tidak ada kandungan parfum dan mempunyai pH (derajat keasaman) sesuai dengan daerah kewanitaan, yaitu sabun lunak (dengan pH 3,5), seperti sabun bayi. Setelah memakai sabun, hendaklah basuh dengan air sampai bersih karena sisa sabun yang tertinggal dapat menimbulkan penyakit. Setelah dibasuh, keringkan namun jangan digosok. Penggunaan sabun pun sebaiknya hanya di bagian luar saja. Bagi wanita yang sudah bersuami, setelah berhubungan bisa menggunakan pembersih vagina untuk mengembalikan keasaman vagina, karena sifat sperma laki-laki adalah basa.

2. Memperhatikan kebersihan pakaian dalam.

Dalam satu hari, minimal Anda harus mengganti pakaian dalam sebanyak dua kali. Pemilihan bahan celana dalam sebaiknya yang menyerap keringat, seperti katun. Jika menginginkan yang berbahan satin, boleh saja, tetapi gunakan sesekali saja karena tidak menyerap keringat dan mempermudah kuman, bakteri, jamur menempel di alat kelamin Anda.

Satu yang perlu diingat adalah jangan saling bertukar pakaian dalam dengan orang lain. Meskipun orang lain itu keluarga Anda sendiri, tetap saja, setiap orang mempunyai keadaan kelamin yang berbeda.

3. Rambut yang tumbuh di alat kelamin harus rajin dicukur.

Pada prinsipnya, tidak boleh membersihkan bulu daerah kemaluan dengan cara mencabut. Mencabut bulu kemaluan dapat menimbulkan lubang pada bekas cabutan tersebut dan menjadi jalan masuk bagi kuman, bakteri, dan jamur yang selanjutnya dapat mengakibatkan timbulnya iritasi dan penyakit kulit. Anda disarankan hanya merapikan saja dengan cara memendekkan. Misalnya dipendekkan ½ cm dengan menggunakan gunting atau dicukur, tapi menggunakan busa sabun terlebih dahulu dan menggunakan alat cukur khusus yang lembut yang sebelumnya sudah dicuci dengan sabun dan disiram air panas. Setelah digunakan, alat cukur dicuci kembali dan disimpan di tempat yang bersih dan kering, jangan di tempat yang lembab. Perlu diingat : jangan menggunakan alat cukur secara bergantian, walaupun dengan suami atau istri atau saudara kandung Anda sendiri!

Jika Anda tidak rajin dan rutin mencukurnya, maka rambut-rambut itu bisa menjadi sarang kutu dan jamur. Mencukurnya pun tidak boleh sampai habis karena rambut-rambut itu mempunyai fungsi untuk kesehatan alat kelamin, yaitu berguna untuk merangsang pertumbuhan bakteri baik yang akan membantu melawan bakteri jahat dan menghalangi masuknya benda asing yang kecil ke dalam vagina. Rambut tersebut juga berfungsi sebagai bantalan ketika berhubungan seksual dan melindungi alat kelamin dari gesekan. Selain itu, untuk menjaga alat kelamin tetap hangat.

4. Jika ingin menggunakan toilet umum, sebelumnya siramlah dahulu (flushing) toilet yang akan dipakai.

Hal ini penting karena banyak penderita penyakit kelamin, setelah ditelusuri ternyata mereka pernah menggunakan toilet yang sebelumnya digunakan oleh penderita penyakit kelamin.

Hindari menggunakan air yang berada di bak atau ember. Menurut penelitian, air yang tergenang di toilet umum mengandung 70% jamur candida albicans (penyebab keputihan dan rasa gatal pada vagina). Sedangkan air yang mengalir dari keran di toilet umum mengandung kurang lebih 10-20% jamur candida albicans. Oleh karena itu, gunakan tisu basah atau air yang langsung mengalir melalui keran.

5. Hindari memakai celana dalam dan celana jeans yang terlalu ketat di wilayah selangkangan karena hal ini 

menyebabkan kulit susah bernafas dan akhirnya menyebabkan daerah tersebut menjadi berkeringat, lembab, mudah terkena jamur, dan teriritasi. Selain itu, dapat membuat peredaran darah tidak lancar serta membuat penis dan testis kepanasan. Panas berlebihan oleh suhu, keringat, dan pakaian yang terlalu ketat, dapat menurunkan kualitas sperma.

6. Untuk para wanita yang sedang mengalami menstruasi / haid, jangan malas untuk mengganti pembalut.

Pada keadaan menstruasi, kuman-kuman mudah masuk. Gantilah pembalut apabila di permukaan pembalut telah ada gumpalan darah, karena merupakan tempat untuk perkembangan bakteri dan jamur.

Usahakan tetap mengganti pembalut setiap 4 jam sekali atau 2-3 kali sehari atau jika sudah tidak merasa nyaman. Dan cucilah vagina terlebih dahulu setiap kali akan mengganti pembalut.

7. Pemakaian pantyliner tidak dianjurkan setiap hari.

Pantyliner sebaiknya hanya digunakan pada saat keputihan. Lebih baik membawa celana dalam ganti daripada memakai pantyliner tiap hari.

8. Jangan menggunakan bedak untuk daerah vagina, termasuk pada bayi, terutama bayi perempuan.

Menurut penelitian, pemakaian bedak pada daerah tersebut berdampak buruk karena bedak dapat masuk ke dalam vagina yang dapat mengakibatkan berbagai macam penyakit, seperti tumor (granuloma).

Jika tetap ingin menggunakan bedak, usapkan terlebih dahulu ke telapak tangan, baru ke daerah lipatan paha dan pantat bayi.

9. Jangan pernah menyemprotkan minyak wangi ke dalam vagina.

10. Ubah gaya hidup Anda dengan berhenti merokok, berolahraga,kurangi konsumsi lemak, mengidealkan berat badan, berhenti mengkonsumsi alcohol, serta setia pada pasangan

11. Pada bayi :

Untuk bayi laki-laki, bila belum disunat, sebaiknya bersihkan penisnya dengan sabun. Gunakan kapas basah untuk membersihkan penis dan lipatannya. Jangan memaksa menarik kulit luar dan membersihkan bagian dalam penis atau menyemprotkan antiseptik karena sangat berbahaya. Keringkan area ini dengan benar. Bersihkan pula bagian bokong bayi dari arah kelamin / penis ke dubur / anus.
Untuk bayi perempuan, jangan gunakan sabun secara berlebihan. Gunakan gulungan kapas halus yang dibasahi air hangat untuk membersihkan bagian dalam dan bawah kelamin. Basuh seluruh kelamin dengan air mulai dari bagian atas ke bawah. Saat membersihkan bokongnya, lakukan seperti pada bayi laki-laki.
Jagalah popok yang digunakan bayi agar tetap kering. 

12. Lakukan Pemeriksaan Rutin

  • Bila terjadi perubahan warna, gatal-gatal dan kadang disertai bau yang kurang sedap pada alat kelamin Anda, segera berkonsultasi ke dokter obstetri-ginekologi atau dokter kulit dan kelamin.
  • Pemeriksaan testis (buah zakar) dapat dilakukan sendiri, yaitu dengan cara :
  • Kenalilah bentuk, ukuran, dan berat masing-masing testis
  • Dengan menggunakan kedua belah tangan, raba masing-masing testis
  • Waspadai bila ada benjolan kecil di bawah kulit, di bagian depan atau sepanjang testis. Bila ada pembengkakan atau benjolan, segera periksakan diri ke dokter.
  • Bila terdapat sesuatu yang tidak seperti biasanya dan tidak mengenakkan (tidak terasa nyaman), segera konsultasikan ke dokter.

Tidak sulit, bukan? Cukup dengan mengubah kebiasaan Anda sehari-hari seperti di atas, Anda sudah merawat alat kelamin Anda dan mencegah terjadinya penyakit kelamin. Mudah dan sederhana! Oleh karena itu, lakukan sekarang sebelum terlambat!